septiani's blog. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

3. Tes Sidik Jari Identifikasikan Karakter Karyawan

FINGER print test atau dikenal dengan tes sidik jari di samping mampu mengidentifikasikan kecerdasan, juga mampu mengidentifikasikan karakter individu. Informasi tentang karakter dan kecerdasan karyawan sangat bermanfaat untuk menempatkannya di tempat kerja yang tepat. “The right man in the right place” penempatan karyawan sesuai dengan potensi, bakat, dan karakternya. Demikian diungkapkan ahli analisis finger print dari Singapura Mr. Richie Maximus.

Ia mengatakan, tes sidik jari sudah diterapkan di beberapa negara di Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Taiwan. Sekarang ini, kata Mr. Richie, tes sidik jari sudah digunakan dalam perekrutan karyawan baru dan promosi jabatandi beberapa perusahaan besar di Jakarta.

Ia berpandangan, tiap orang diciptakan sebagai sosok yang cerdas. Namun, kecerdasan yang dimiliki berbeda-beda dengan takaran yang berbeda pula. Tes sidik jari akan menjelaskan dan memetakan potensi dasar atau bakat yang dimiliki. Dari hasil grafik kecerdasan majemuk ini, perusahaan dapat lebih mudah mengarahkan atau mengembangkan kecerdasan karyawannya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Dalam hasil tes, disebutkan apa kelebihan dan kelemahan individu. Beberapa rekomendasi juga diberikan untuk mengembangkan potensi yang menonjol, dan menempatkan kekurangan agar tidak menghambat dalam berkarier. “Dengan tes ini, individu dapat memahami diri sendiri dan memilih karier yang tepat. Individu mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan kompetensi yang dominant, membangkitkan semangat untuk kehidupan dan mencapai mimpi-mimpi, mengembangkan diri dan memberdayakan diri untuk mencapai tujuan dan impian,” papar Mr. Richie.

Dari hasil ini, perusahaan bisa memberdayakan karyawan dengan memahami bakat/potensi yang mereka miliki, menemukan nilai-nilai yang tidak tampak dari karyawan untuk pengembangan kreativitas yang lebih menguntungkan, mengorganisasikan kekuatan kinerja karyawan untuk mencapai prestasi tertinggi/optimal, menentukan dan menyelenggarakan pelatihan pengembangan SDM yang dibutuhkan karyawan serta mengevaluasi pengelolaan profil bakat level manajemen.
Ia mengatakan, individu yang sudah bekerja tidak harus mengubah pekerjaannya setelah mengetahui hasil tes ini. Namun, hasil tes dapat digunakan untuk mengembangkan potensi unggulan untuk menunjang profesi kerja.

Delapan Kecerdasan
Psikolog Nyoman Ayu Suci Kharisma Rani mengungkapkan, ada beberapa indikator seseorang melakukan sesuatu sesuai bakatnya atau tidak. “Mereka biasanya penuh rasa riang gembira ketika melakukan sesuatu pekerjaan atau kegiatan. Mereka melakukannya sendiri tanpa harus dipaksa atau diperintah. Mereka juga tidak putus asa dan tidak mudah jenuh pada kondisi apa pun saat melakukan sesuatu itu,” paparnya.
Dengan mengetahui bakat yang sebenarnya, seseorang akan makin senang menghadapi bisnis atau pekerjaannya dalam kondisi apa pun dan lebih produktif.
Contoh, jika setelah dites hasil yang ditemukan individu memiliki karakter yang mudah bergaul, orangnya menyenangkan, dan mampu mengintegrasikan topik pembicaraan sehingga mampu tampil sebagai pengendali pembicaraan. Individu ini populer dan memiliki banyak teman. Ia cenderung tidak ragu dalam berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya. Individu ini cenderung cocok ditempatkan di pemasaran. Karakternya yang mudah bergaul dan menyenangkan bagi orang lain sebagai kunci utama ia sukses di bidang penjualan. Ia menyatakan pekerjaan seseorang yang disesuaikan dengan bakat dan potensi akan meningkatkan produktivitas kerja. “Bagi yang ingin menjadi pegawai, maka potensi otak kiri harus lebih dominan daripada potensi otak kanan. Bagi yang akan mencoba menjadi pengusaha, potensi otak kanan harus lebih dominan dibandingkan otak kiri,” katanya.

Ia mengatakan, kecenderungan seseorang bisa saja dominan otak kiri atau otak kanannya, atau seimbang. Dari hasil ini, kita dapat melatih dan membantu menyeimbangkan kemampuan analisis logis otak kiri dengan kemampuan kreativitas dan apresiasi otak kanan. Manusia memiliki delapan kecerdasan. Kecerdasan linguistik (bahasa) yakni kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Pekerjaan yang cocok baginya penulis, jurnalis, penyair, orator, dan pelawak. Kecerdasan logis matematis yakni kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Ini adalah jenis-jenis keterampilan yang diperlukan ekonom atau akuntan. Kecerdasan visual-spasial yakni kemampuan berpikir menggunakan gambar, membayangkan berbagai hal pada mata pikiran.

Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer dan perencana strategis. Kecerdasan musikal yakni kemampuan mengubah atau mencipta musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Tetapi, kebanyakan kita memiliki kecerdasan musikal dasar yang dapat dikembangkan selanjutnya. Kecerdasan kinestetik yakni kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini jelas diperlihatkan prestasi atletik, di bidang kesenian seperti menari dan akting, atau dalam bidang bangunan dan konstruksi. Kecerdasan interpersonal yakni kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki guru, penyembuh, politisi, pemuka agama. Kecerdasan intrapersonal, yakni kemampuan menganalisis diri dan merenungkan diri, mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri.

Kecerdasan ini biasanya dimiliki filosof, penyuluh, pembimbing. Kecerdasan naturalis yakni kemampuan mengenal flora dan fauna, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif misalnya untuk berburu, bertani atau melakukan penelitian biologi. Ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, lingkungan, semuanya memperlihatkan aspek-aspek kecerdasan ini.

Perempuan yang akrab disapa Rani ini mengatakan, dengan tes sidik jari, akan diketahui kecerdasan mana yang menonjol. Penempatan karyawan pun disesuaikan kecerdasan yang dimiliki.
Ia menyatakan, memahami diri berarti mampu memahami kekuatan dan kelemahan diri. Individu yang bisa mengetahui potensi dan karakternya, mampu menempatkan dirinya dengan lebih baik dan bertindak efektif sesuai dengan situasinya. “Individu yang demikian mampu melakukan evaluasi dan mengukur kemajuan yang dicapainya sehingga ia mampu mengoptimalkan potensi dirinya. Ia juga diharapkan mampu fokus pada kelebihannya, dan tidak selalu memandang kekurangannya,” ujarnya.

Rathi, misalnya. Ia memiliki karakter yang tak mudah percaya dengan informasi yang disampaikan pihak lain. Ia cenderung menghendaki adanya data, bukti, dasar bukunya dan melihat kualitas orang yang menyampaikannya. Awalnya saat ditawari tes sidik jari, ia tidak terlalu tertarik. Ia kemudian melakukannya dengan sedikit bercanda. Namun, setelah melihat hasilnya, ia kaget, ternyata 90% analisis finger print test sama dengan karakternya. Dari hasil tes terlihat, ia tak mudah memercayai penjelasan apa pun, sebelum ada bukti dan data. Rani berpandangan, individu dapat jauh lebih optimal dalam menempatkan dan mengembangkan diri jika ia memahami karakter dan kelebihan serta kekurangan dirinya. –ast

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar