septiani's blog. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label proses produksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label proses produksi. Tampilkan semua postingan

5. Proses Produksi Tempe

SENTRA PRODUSEN TEMPE TAHU

ASPEK PRODUKSI
PROSES PRODUKSI
Proses Produksi Tempe
Tahapan proses produksi tempe adalah sbb :
  1. Biji kedele yang telah di pilih/di bersihkan dari kotoran, dicuci dengan air PDAM atau air sumur yang bersih selama 1 jam.
  2. Setelah bersih kedele di rebus dalam air selama 2 jam.
  3. Kemudian direndam 12 jam dalam air panas/hangat bekas air perebusan dengan maksud supaya kedele mengembang.
  4. Berikutnya di rendam dalam air dingin selama 12 jam.
  5. Setelah 24 jam seperti butir 3 dan butir 4 diatas, kedele di cuci/dikuliti (dikupas).
  6. Setelah di kupas , direbus untuk membunuh bakteri yang kemungkinan tumbuh selama perendaman.
  7. Kedele di ambil dari dandang, letakkan di atas tampah dan diratakan tipis-tipis. Biarkan dingin sampai permukaan keping kedele kering dan airnya menetes habis.
  8. Kemudian di campur dengan laru (ragi 2 %) guna mempercepat/meransang pertumbuhan jamur. Proses mencampur kedele dengan ragi memakan waktu sekitar 20 menit. Tahap peragian (fermentasi) adalah kunci keberhasilan atau tidaknya membuat tempe kedele.
  9. Bila campuran bahan fermentasi kedele sudah rata, kemudian dicetak pada loyang atau cetakan kayu dengan lapisan plastik atau daun yang akhirnya di pakai sebagai pembungkus. Sebelumnya, plastik di lobangi/ditusuk-tusuk. Maksudnya ialah untuk memberi udara supaya jamur yang tumbuh berwarna putih. Proses percetakan/pembungkus memakan waktu 3 jam.
  10. Campuran kedele yang telah dicetak dan diratakan permukaannya di hamparkan di atas rak dan kemudian ditutup selama 24 jam.
  11. Setelah 24 jam tutup di buka dan didinginkan/diangin-anginkan selama 24 jam. Setelah ini campuran kedele telah menjadi tempe siap jual.
  12. Untuk tahan lama, tempe yang misalnya akan menjadi produk ekspor dapat di bekukan dan dikirim ke luar negeri di dalam peti kemas pendingin. Proses membekukan tempu untuk ekspor sbb : mula-mula tempe di iris-iris setebal 2 - 3 cm dan di blanching direndam dalam air mendidih selama lima menit untuk mengaktifkan kapang dan enzim. Kemudian tempe di bungkus dengan plastik selofan dan di bekukan pada suhu 40 derajat Celcius sekitar 6 jam. Setelah beku disimpan pada suhu beku sekitar 20 derajat celcius selama 100 hari tanpa mengalami perubahan sifat penampak warna, bau dan rasa
Proses produksi Tahu
Tahap dalam proses produksi tahu adalah sbb :
  1. Kedele dipilih dengan penampi untuk memilih biji kedele besar. Kemudian di cuci serta direndam dalam air besar selama 6 jam.

  • Setelah di rendam di cuci kembali sekitar 1/2 jam

  • Setelah di cuci bersih kedelai di bagi-bagi diletakkan dalam ebleg terbuat dari bambu atau plastik.

  • Selanjutnya kedele giling sampai halus, dan butir kedele mengalir dengan sendirinya kedalam tong penampung.

  • Selesai digiling langsung direbus selama 15 - 20 menit mempergunakan wajar dengan ukuran yang besar-besar . Sebaiknya jarak waktu antara selesai digiling dan dimasak jangan lebih dari 5 - 10 menit, supaya kualitas tahu menjadi baik.

  • Selesai di masak bubur kedele diangkat dari wajan ke bak/tong untuk disaring menggunakan kain belacu atau mori kasar yang telah di letakkan pada sangkar bambu. Agar bubur dapat di saring sekuat-kuatnya diletakkan sebuah papan kayu pada kain itu lalu ada satu orang naik di atasnya dan menggoyang-goyang, supaya terperas semua air yang masih ada pada bubur kedele. Limbah dari penyaringan berupa ampas tahu. Kalau perlu ampas tahu diperas lagi dengan menyiram air panas sampai tidak mengandung sari lagi. Pekerjaan penyaringan di lakukan berkali-kali hingga bubur kedele habis.

  • Air sampingan yang tertampung dalam tong warna kuning atau putih adalah bahan yang akan menjadi tahu. Air saringan di campur dengan asam cuka untuk menggumpalkan. Sebagai tambahan asam cuka dapat juga air kelapa atau cairan whey (air sari tahu bila tahu telah menggumpal) yang telah di eramkan maupun bubuk batu tahu (sulfat kapur)

  • Gumpalan atau jonjot putih yang mulai mengendap itulah yang nanti sesudah di cetak menjadi tahu. Air asam yang masih ada dipisahkan dari jonjot-jonjot tahu dan disimpan, sebab air asam cuka masih dapat digunakan lagi. Endapan tahu dituangkan dalam kotak ukuran misalnya 50 x 60 cm 2 dan sebagai alasnya di hamparkan kain belacu. Adonan tahu kotak dikempa, sehingga air yang masih tercampur dalam adonan tahu itu terperas habis. Pengempaan dilakukan sekitar 1 menit, adonan tahu terbentuk kotak, yang sudah padat, di potong-potong, misalnya dengan ukuran 6 x 4 cm 2, sebelulm menjadi tahu siap di jual.

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS

    4. FILM ANIMASI : PERENCANAAN & PROSES PRODUKSI


    animasi - multimedia - desain grafis.jpg
    Belajar dari proses produksi film animasi serial siKimut, akan saya coba gambarkan bagaimana proses perencanaan yang dilakukan dan bagaimana proses produksi itu bisa berjalan seiring dan searah sehingga menghasilkan film animasi yang baik dan profesional. Memang pada implementasinya dilapangan tentu akan ada perbedaan dari apa yang saya paparkan disini, karena memang kondisinya akan berbeda dari apa yang saya lakukan pada proses pembuatan siKimut, namun secara konsep akan sama. Produksi film secara umum dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Perencanaan dan Produksi, kedua proses tersebut saling berhubungan dan menjadi kaitan satu sama lain. Perencanaan menyangkut proses persiapan sebelum produksi dilakukan, dan banyak hal yang masuk dalam proses tersebut, seperti perencanaan SDM, Peralatan, Budget, Alur Kerja dan konsep dari cerita yang akan dibuat. Sementara proses produksi terdiri atas 3 tahapan, yaitu praproduksi, produksi dan pasca produksi. 1. Proses Perencanaan Kata orang, membuat rencana sudah sama dengan 50% hasil..he..he..enak juga ya kita lakukan 2 kali perencanaan sudah dapat 100%, berarti gak perlu produksi dah selesai..he..he..just kidding. Seperti yang saya lakukan dalam proses produksi siKimut, terdapat beberapa pekerjaan dalam proses perencanaan ini, yaitu :
    • Rencana tempat produksi
    • Pola pembiayaan produksi
    • Perencanaan fasilitas yang akan digunakan
    • Perencanaan jadwal pelaksanaan pekerjaan
    • Penentuan format output film yang akan dibuat
    • Koordinasi pekerjaan antar bagian
    • Humas dan komunikasi klien
    Perencanaan tempat produksi, adalah menentukan dimana lokasi berbagai kegiatan akan dilakukan, misalnya proses dubbing dan editingnya, produksi karakter dan animasinya, serta proses editing akhir. Kenapa ini menjadi pertimbangan, ketika dana yang dimiliki tidak terbatas hal ini bukan menjadi suatu permasalahan yang serius, namun bila budget produksi terbatas apalagi nilai pekerjaan juga tidak terlalu besar hal ini harus menjadi perhatian. Ada beberapa strategi pelaksanaan pekerjaannya berdasarkan lokasi pekerjaan, yaitu :
    • Outsourcing, memberikan pekerjaan kepada pihak ketiga seluruh pekerjaan yang akan dilakukan
    • atau hanya sewa tempat saja, namun pekerjaan tetap dilakukan sendiri
    Bila alternatif pertama dilakukan maka lokasi/tempat tidak perlu dipertimbangkan, namun bila opsi kedua dilakukan maka lokasi menjadi sangat perlu untuk dipertimbangkan, setidaknya kita cari partener yang bisa menyewakan tempat dengan harga murah dan terjangkau, syukur kalo mau diajak kerjasama produksi, sehingga budget bisa ditekan. Beberapa proses kadang memerlukan investasi peralatan yang sangat besar, sehingga kalo mau memproduksi film dengan biaya produksi seminimal mungkin, maka sewa tempat atau peralatan menjadi sangat penting, proses yang masuk dalam kondisi diatas seperti
    • Sound Dubbing serta editing soundnya
    • Produksi animasi, mulai dari modeling hingga rendering
    • Post production beserta transfer format outputnya
    Sewa tempat untuk studio sound dubbing hitungannya dalam jam penggunaan, namun kebanyakan studio tersebu tidak khusus untuk dubbing saja, biasanya dicampur untuk recording musik atau band, tapi itu tidak masalah yang penting ruangan kedap suara sehingga tidak ada suara lain yang masuk ketika dilakukan rekam suara, kualitas peralatan sesuai dengan standard musik atau dubbing, serta layanan purna jual (after sales service). Harga sewa studio musik/dubbing bervariasi tapi rata-rata dari hasil survey kebeberapa tempat sekitar angka 60-70 ribu sejam, didalamnya sudah termasuk peralatan band lengkap(padahal tidak dibutuhkan..), pendingin udara/AC, komputer editing serta biasanya dikasih minuman standar kayak aqua, untuk after service nya biasanya memang jarang diberikan, tapi kalo kita bisa nego karena volumenya besar maka harga bisa ditekan. Pola pembiayaan produksi, memang harus diakui ini merupakan hal yang sangat krusial, bagaimana tidak seluruh proses produksi tergantung pada faktor ini. Ada beberapa alternatif pola pembiayaan produksi :
    • Outsourcing pekerjaan
    • Kerjasama produksi
    • Undang investor
    • Saweran bersama
    He..he..dari keempat komponen yang paling nyaman dan aman adalah mengundang investor untuk membantu keuangan proyek, meskipun juga semua kompoenen tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk mengundang investor kita perlu persiapkan proposal proyek yang akan dikerjakan, didalamnya ada cerita singkat mengenai proyek yang akan dijalankan, jadwal pekerjaan serta jumlah kebutuhan dana yang diperlukan untuk proses produksi dimana harus ada komponen laporan keuangan seperti Cash Flow Project, Estimasi Rugi/Laba serta termin pembayaran dari investor tersebut. Memang tidak mudah untuk meyakinkan orang bila ingin melakukan trnasaksi investasi, apalagi kalo nilai investasi lumayan besar. Tapi jangan ragu dan bimbang, maju terus pantang mundur. Komponen yang pertama memberikan kenyamanan dalam proses pekerjaannya karena seluruh pekerjaan dilakukan oleh pihak ketiga tinggal ditentukan mekanisme kontrol serta progress reportingnya, namun mereka biasanya minta termin pembayaran yang berbeda dengan termin pembayaran klien kita, misalnya mereka minta DP atau sejenisnya untuk tahap awal pekerjaan. Paling enak kalo kita bisa undang lebih dari 2 outsourcing untuk perbandingannya, disitulah biasanya para outsourcer ingin memberikan harga dan layanan terbaik buat kita. Perencanaan fasilitas yang akan digunakan, mencakup pertimbangan spesifikasi komputer yang akan digunakan, peralatan kamera, aksesoris produksi dan benda fisik lainnya. Dalam industri animasi, peralatan komputer menjadi sangat vital, karena hampir 70% pekerjaan dilakukan menggunakan peralatan ini. Spesisikasi komputer yang dibutuhkan untuk proses produksi bisa dikatakan harus yang berarsitektur terkini, intinya semakin baru teknologi dan semakin lengkap komponen komputer yang digunakan semakin baik, namun bila dana pas-pasan maka ada beberapa kompoenen yang di sarankan, seperti :
    • Prosesor kalo bisa minimal PIII, rekomendasinya sih Pentium IV
    • RAM minimal 256 MB
    • Harddisk harus agak besar karena rendering akan memakan file yang sangat besar, paling tidak minimal 80 GB
    • DVD RW (jangan sampai tertukar dengan DVD Combo, soalnya barangnya jauh berbeda, mengenai speed sih rekomendasinya minimal 8X untuk write, kalo read sih terserah.
    • Cek kelengkapan port komputernya, paling gak ada USB, Multi Card Reader
    • Speaker dan Microphone
    • VGA Card paling tidak 128 MB

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS

    3.Pemahaman Konsep Proses Produksi


    Produksi adalah kegiatan manusia untuk membuat suatu produk barang maupun jasa. Bila kita mengamati kegiatan produksi, banyak faktor yang berkaitan antara satu dengan yang lain, seperti: bahan baku, peralatan, dan tenaga.
    Produksi merupakan suatu sistem, pasti di dalamnya terkandung tiga unsur yaitu : INPUT, PROSES dan OUTPUT seperti yang  terlihat pada bagan berikut ini.
    Input dan Output Proses Produksi
    Input dalam proses produksi terdiri atas bahan baku/bahan mentah, energi yang digunakan dan informasi yang diperlukan.
    Proses merupakan kegiatan yang mengolah bahan, energi dan informasi perubahan  sehingga menjadi barang jadi  (output).
    Output merupakan barang jadi sebagai hasil yang dikehendaki, sedangkan output limbah harus diminimalkan agar tidak mengganggu lingkungan.
    Kenyataan yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari, proses produksi  dilakukan dengan cara berikut.
    1. Manual/tradisional : dilakukan dengan menggunakan tangan, contoh pembuatan anyaman dan  ukiran
    2. Semi otomatis: sudah ada alat bantu yang menggunakan mesin
    3. Otomatis/modern: menggunakan mesin sistem robot yang diprogram dengan bantuan komputer.
    Untuk membedakan proses kerja secara manual, dengan proses kerja  mesin, atau proses kerja secara otomatis perlu dipahami inputnya.
    Bekerja secara manual, tenaga yang dikeluarkan  dan pengendalian alat yang digunakan berasal dari manusia yang bekerja. Bekerja semi otomatis,    tenaga atau energi disuplai oleh tenaga listrik dan pengendalian masih memerlukan manusia(orang yang bekerja) walaupun sebagian tenaga sudah dibantu oleh mesin. Bekerja secara otomatis,   tenaga maupun pengendalian disuplai oleh mesin.

    Dalam melakukan produksi manusia selalu memikirkan bagaimana agar produknya dapat dibuat dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu  mereka harus menemukan teknik atau metode yang lebih baik, lebih mudah,   dan bermanfaat. Berpikir seperti ini berarti telah berfikir  “Teknologi Produksi “
    Dengan demikian, teknologi produksi merupakan cara manusia untuk membuat produk dengan melibatkan berbagai faktor secara praktis, cepat, mutu baik, dan murah.

    PROSES PRODUKSI
    Dahulu di Indonesia banyak produk dibuat dengan tanga(secara manual/tradisional). Sekarang  produk-produk makin banyak dan melimpah jumlahnya sehingga diperlukan tenaga kerja yang banyak. Produksi dengan jumlah yang besar disebut produksi masal dan produksi serial. Produksi seperti ini dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, misalnya industri keranjang. Setiap pekerja membuat produknya secara lengkap, mulai dari bahan mentah hingga produk akhir. Kemungkinan lain setiap karyawan hanya membuat satu bagian saja dan secara berurutan akhirnya menghasilkan produk akhir.  Sistem ini sering menggunakan ban berjalan (alur produksi). Setiap bagian produk yang telah selesai, ditempatkan pada ban berjalan dan dipindahkan ke tempat kerja berikutnya.

    Sistem ini, pekerjaan dilaksanakan pada satu tempat yang sama. Yang penting untuk diperhatikan melalui sistem ini adalah jangan sampai terjadi penumpukan pada satu bagian. Bila hal ini tidak diperhatikan, akan terjadi kemacetan dalam proses produksi. Pekerjaan seperti ini ada saling ketergantungan di antara pekerja sehingga mereka harus memiliki tanggung jawab terhadap pekerja lain. Proses produksi secara keseluruhan dilakukan dengan menggunakan ban berjalan. Mulai proses perakitan hingga dihasilkan produksi jadi.

    Cara memproduksi mempengaru-hi harga sebuah produk. Produk yang dibuat secara manual sering lebih mahal daripada produk yang dibuat dengan mesin. Sebagai contoh produk taplak, harganya lebih mahal. Namun, karena orang cenderung ingin tampil beda atau tidak ada yang menyamai sehingga harga kadang-kadang tidak begitu dipersoalkan oleh mereka.
           
    PERENCANAAN PRODUKSI
    Perencanaan adalah suatu fungsi dari manajemen yang menentukan usaha dan tindakan-tindakan yang perlu diambil oleh pimpinan perusahaan.
    Perencanaan produksi merupakan pegangan untuk merancang jadwal induk produksi. Sehingga perencanaan produksi mempunyai tujuan sebagai langkah awal untuk menentukan   aktivitas produksi dan sebagai masukan rencana sumber daya.
    Perencanaan dapat dibedakan antara perencanaan yang bersifat umum dan perencanaan produksi.
    a. Perencanaan bersifat umum adalah perencanaan kegiatan dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan pada jangka panjang.
    b. Perencanaan produksi adalah perencanaan dan pengorganisasian mengenai pekerja, bahan, mesin, dan peralatan serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang dengan suatu metode tertentu yang sesuai dengan yang diramal dan kemampuan pada perusahaan.

    JENIS-JENIS PERENCANAAN PRODUKSI
    Jenis perencanaan produksi dapat dibedakan atas perencanaan produksi jangka pendek dan jangka panjang. Perencanaan  jangka pendek adalah perencanaan yang berupa penentuan kegiatan produksi yang dilakukan dalam jangka waktu kurang dari satu tahun dan berhubungan dengan pengaturan operasi. Sedangkan perencanaan produksi jangka panjang adalah perencanaan yang dilakukan dalam jangka waktu lebih dari lima tahun dan berhubungan dengan pengembangan produk.
       

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS

    2. PROSES PRODUKSI GULA

    Proses Produksi Gula

    ImageTebu adalah bahan baku utama untuk proses produksi di pabrik gula yang akan menghasilkan produk utama yaitu Gula Kristal Putih (GKP) dan tetes. Disamping itu proses pengolahan tebu ini juga memproduksi ampas tebu, selain itu juga menghasilkan limbah yang bisa dimanfaatkan seperti blotong, abu boiler dan lain-lain.
    Parameter yang digunakan untuk menunjukkan mutu gula antara lain : NIlai Remisi Direduksi (NRD), Warna Icumsa (IU), Besar Jenis Butir (BJB), Kadar Air dan Pol pada suhu 20o C. Sedangkan faktor yang menentukan mutu gula adalah kondisi dan mutu tebu yang akan diolah.
    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan tebu, diantaranya adalah :
    a. Kapasitas giling yang sesuai dengan design capacity, sehingga jumlah hari giling sesuai dengan rencana.
    b. Kehilangan gula selama proses pengolahan baik secara chemis, mekanis maupun kehilangan tak diketahui seperti pada ampas, blotong dan tetes.
    c. Biaya penggunaan utilitas seperti uap air, listrik, air dan udara bertekanan harus sesuai kebutuhan
    d. Tingkat kerusakan peralatan yang berpengaruh pada biaya pemeliharaan disamping hal tersebut juga berimbas pada proses pembuatan gula pasir
    Pabrik gula di lingkungan PT PG Rajawali I menggunakan sistem proses sulfitasi untuk mengolah gula. Secara umum proses produksi di pabrik gula dibagi menjadi :
    1. Emplasement
    2. Stasiun Ketel (Boiler)
    3. Stasiun Listrik / Sentral
    4. Stasiun Gilingan
    5. Stasiun Pemurnian
    6. Stasiun Penguapan
    7. Stasiun Masakan
    8. Stasiun Puteran
    9. Stasiun Penyelesaian dan Pengemasan
    10. Unit Pengolah Limbah (UPL)
    Masing-masing stasiun atau unit ini mempunyai fungsi dan tugas tersendiri, namun tetap merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan sehingga harus dipahami berbagai aspek operasionalnya, termasuk pengendalian dan pengawasan prosesnya.

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS

    1. Proses Produksi Bioetanol

    Seiring dengan menipisnya cadangan energi BBM, jagung menjadi alternatif yang penting sebagai bahan baku pembuatan ethanol (bahan pencampur BBM). Karenanya, kebutuhan terhadap komoditas ini pada masa mendatang diperkirakan mengalami peningkatan yang signifikan. Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme
    • Gasoholº campuran bioetanol kering/absolut terdena-turasi dan bensin pada kadar alkohol s/d sekitar 22 %-volume.
    • Istilah bioetanol identik dengan bahan bakar murni. BEX º gasohol berkadar bioetanol X %-volume.
    Bahan Baku
    • Nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum manis, nira kelapa, nira aren, nira siwalan, sari-buah mete
    • Bahan berpati: a.l. tepung-tepung sorgum biji (jagung cantel), sagu, singkong/gaplek, ubi jalar, ganyong, garut, umbi dahlia.
    • Bahan berselulosa (Þ lignoselulosa):kayu, jerami, batang pisang, bagas, dll. Sekarang belum ekonomis, teknologi proses yang efektif diperkirakan akan komersial pada dekade ini !
    Pemanfaatan Bioetanol
    • Sebagai bahan bakar substitusi BBM pada motor berbahan bakar bensin; digunakan dalam bentuk neat 100% (B100) atau diblending dengan premium (EXX)
    • Gasohol s/d E10 bisa digunakan langsung pada mobil bensin biasa (tanpa mengharuskan mesin dimodifikasi).
    Sumber Karbohidrat Hasil Panen Ton/ha/th Perolehan Alkohol
    Liter/ton Liter/ha/th
    Singkong 25 (236) 180 (155) 4500 (3658)
    Tetes 3,6 270 973
    Sorgum Bici 6 333,4 2000
    Ubi Jalar 62,5* 125 7812
    Sagu 6,8$ 608 4133
    Tebu 75 67 5025
    Nipah 27 93 2500
    Sorgum Manis 80** 75 6000
    *) Panen 2 ½ kali/th; $ sagu kering; ** panen 2 kali/th. Sumber: Villanueva (1981); kecuali sagu, dari Colmes dan Newcombe (1980); sorgum manis, dari Raveendram; dan Deptan (2006) untuk singkong; tetes dan sorgum biji (tulisan baru)
    Teknologi Pengolahan Bioetanol
    Teknologi produksi bioethanol berikut ini diasumsikan menggunakan jagung sebagai bahan baku, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakannya biomassa yang lain, terutama molase.
    Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu: Persiapan Bahan baku, Fermentasi, dan Pemurnian.
    1. Persiapan Bahan Baku
    Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal Tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum) disamping bahan lainnya.
    Persiapan bahan baku beragam bergantung pada bahan bakunya, tetapi secara umum terbagi menjadi beberapa proses, yaitu:
    • Tebu dan Gandum manis harus digiling untuk mengektrak gula
    • Tepung dan material selulosa harus dihancurkan untuk memecahkan susunan tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara baik
    • Pemasakan, Tepung dikonversi menjadi gula melalui proses pemecahan menjadi gula kompleks (liquefaction) dan sakarifikasi (Saccharification) dengan penambahan air, enzyme serta panas (enzim hidrolisis). Pemilihan jenis enzim sangat bergantung terhadap supplier untuk menentukan pengontrolan proses pemasakan.
    Tahap Liquefaction memerlukan penanganan sebagai berikut:
    • Pencampuran dengan air secara merata hingga menjadi bubur
    • Pengaturan pH agar sesuai dengan kondisi kerja enzim
    • Penambahan enzim (alpha-amilase) dengan perbandingan yang tepat
    • Pemanasan bubur hingga kisaran 80 sd 90 C, dimana tepung-tepung yang bebas akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly) seiring dengan kenaikan suhu, sampai suhu optimum enzim bekerja memecahkan struktur tepung secara kimiawi menjadi gula komplek (dextrin). Proses Liquefaction selesai ditandai dengan parameter dimana bubur yang diproses menjadi lebih cair seperti sup.
    Tahap sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan proses sebagai berikut:
    • Pendinginan bubur sampai suhu optimum enzim sakarifikasi bekerja
    • Pengaturan pH optimum enzim
    • Penambahan enzim (glukoamilase) secara tepat
    • Mempertahankan pH dan temperature pada rentang 50 sd 60 C sampai proses sakarifikasi selesai (dilakukan dengan pengetesan gula sederhana yang dihasilkan)
    2. Fermentasi
    Pada tahap ini, tepung telah sampai pada titik telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana proses selanjutnya melibatkan penambahan enzim yang diletakkan pada ragi (yeast) agar dapat bekerja pada suhu optimum. Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan CO2.
    Bubur kemudian dialirkan kedalam tangki fermentasi dan didinginkan pada suhu optimum kisaran 27 sd 32 C, dan membutuhkan ketelitian agar tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Karena itu keseluruhan rangkaian proses dari liquefaction, sakarifikasi dan fermentasi haruslah dilakukan pada kondisi bebas kontaminan.
    Selanjutnya ragi akan menghasilkan ethanol sampai kandungan etanol dalam tangki mencapai 8 sd 12 % (biasa disebut dengan cairan beer), dan selanjutnya ragi tersebut akan menjadi tidak aktif, karena kelebihan etanol akan berakibat racun bagi ragi.
    Dan tahap selanjutnya yang dilakukan adalah destilasi, namun sebelum destilasi perlu dilakukan pemisahan padatan-cairan, untuk menghindari terjadinya clogging selama proses distilasi.
    3. Pemurnian / Distilasi
    Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah 100 C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 - 100 C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume.
    Prosentase Penggunaan Energy
    Prosentase perkiraan penggunaan energi panas/steam dan listrik diuraikan dalam tabel berikut ini:
    Prosentase Penggunaan Energi
    Identifikasi Proses Steam Listrik
    Penerimaan bahan baku, penyimpanan, dan penggilingan 0 % 6.1 %
    Pemasakan (liquefaction) dan Sakarifikasi 30.5 % 2.6 %
    Produksi Enzim Amilase 0.7 % 20.4 %
    Fermentasi 0.2 % 4 %
    Distilasi 58.5 % 1.6 %
    Etanol Dehidrasi (jika ada) 6.4 % 27.1 %
    Penyimpanan Produk 0 % 0.7 %
    Utilitas 2.7 % 27 %>
    Bangunan 1 %> 0.5 %
    TOTAL 100 % 100 %
    Sumber: A Guide to Commercial-Scale Ethanol Production and Financing, Solar Energy Research Institute (SERI), 1617 Cole Boulevard, Golden, CO 80401
    Peralatan Proses
    Adapun rangkaian peralatan proses adalah sebagai berikut:
    • Peralatan penggilingan
    • Pemasak, termasuk support, pengaduk dan motor, steam line dan insulasi
    • External Heat Exchanger
    • Pemisah padatan - cairan (Solid Liquid Separators)
    • Tangki Penampung Bubur
    • Unit Fermentasi (Fermentor) dengan pengaduk serta motor
    • Unit Distilasi, termasuk pompa, heat exchanger dan alat kontrol
    • Boiler, termasuk system feed water dan softener
    • Tangki Penyimpan sisa, termasuk fitting

    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • RSS